Minggu, 08 Mei 2016

[FF] FanFiction - Memories (Sekuel 'Moonlight')

Memories




Author: Erza Noorfatma
Genre: Romance, Friendship, Sad
Main Cast: Noor Euncha(OC), Do Kyungsoo(EXO), Zha Inta(OC)




Euncha melangkah perlahan menelusuri koridor sekolah dengan wajah lesu tak bersemangat, seperti ada sesuatu yang terus dia pikirkan. Dia menatap setiap lantai yang dia lewati sambil mengingat semua kenangan itu.

‘Bagaimana kabarmu sekarang, ya?’

Dia berhenti melangkah di depan ruang musik dimana dia biasa bertemu dengan temannya, teman lamanya. Kenangan itu mulai terputar lagi di pikiran yeoja mungil itu.

“Sudah 1 tahun, eoh?”

Suara namja terdengar dari belakangnya. Namja lain yang dia kenal dan selalu dekat dengannya, walau dia terlihat lebih serius dari dirinya. Kyungsoo. Namja itu menatap Euncha dengan senyum miring yang tak asing baginya. Euncha akhirnya tersenyum lebar dan menghampiri namja itu dengan penuh semangat.


...0O0...


“Sudah setahun kita kehilangan dia...”

Euncha duduk di bangku taman sekolah yang kosong diikuti oleh Kyungsoo, wajahnya kembali sedih saat dia mengucapkan kalimat itu. Kyungsoo menatap wajah temannya dengan prihatin, dia tau apa yang dimaksud dengan ‘dia’.

“Kamu masih sulit melupakan dia?” kata Kyungsoo lirih, Euncha mengangguk.

“Memang sulit melupakan namja seperti dia...”

#flashback
“Lihat!! Akhirnya lagu ini sudah selesai!!”

Seru seorang namja tinggi menunjukkan secarik kertas berisi lirik lagu miliknya pada Euncha dan Kyungsoo. Namja tinggi yang sangat bersemangat.

“Woaa! Daebak, Chanyeol-ah!! Aku yakin Inta pasti suka!” Euncha juga terlihat antusias dengan lagu itu. Kyungsoo hanya tersenyum bangga akan lagu itu.

“Aku harap dia akan menyukainya...” terdapat sedikit jeda dari kalimatnya, tatapannnya menjadi sedih. Euncha dapat menangkap tatapan itu. tatapan khawatir.
#flashback End


“Iya, sih. Dia sangat menyenangkan, selalu positif walau dia memiliki penyakit itu. seandainya dia masih bisa bertahan lebih lama.” Kyungsoo kembali bersuara dan membuyarkan lamunan Euncha.

“Tapi... mungkin memang sudah waktunya. Aku yakin dia akan baik – baik saja.”

“Lalu... Apa yang terjadi dengan Inta?”

Euncha diam. Wajahnya masih diliput aura kesedihan, bahkan mengenai temannya.

“Dia...” Euncha kembali menjeda kalimatnya sesaat, “Sudah seminggu ini aku tak melihatnya. Aku khawatir dia kembali bersedih akan hal ini.”

Kyungsoo mengangguk mengerti, dia tau perasaan Inta saat ini, seperti mereka juga.

“Dia pernah cerita padaku kalau Chanyeol adalah cinta pertama dalam hidupnya dan dia berharap Chanyeol adalah cinta terakhirnya di masa SMA-nya ini. Tapi sekarang, itu hanya impian belaka.”

Di akhir cerita Euncha, Kyungsoo jadi teringat kalimat Chanyeol yang masih mengiang di pikirannya. Seperti kalimat terakhir.

#flashback
“Kyungsoo, bisa kau membantuku?” Chanyeol menghampiri Kyungsoo yang akan meninggalkan ruang musik.

“Tentu. Aku kan, selalu membantumu.” Jawab Kyungsoo berbalik badan dengan wajah santai.

“Bisakah kamu menyerahkan ini pada Inta?” Chanyeol menyerahkan sebuah MP3 dan secarik lirik miliknya.

“Mwo? Kenapa aku?”

“Aku tak yakin aku mampu memberikannya padanya. Aku...”

“Ehh? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kamu selalu bersemangat untuk mendapatkannya. Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?”

“Aku... Aku tak yakin aku bisa bertahan saat akan menyerahkan ini.”

Kalimat terakhir itu membuat Kyungsoo seketika diam. Dia berpikir kalau akan ada hal buruk akan terjadi pada namja tinggi itu. perasaannya jadi gelisah.

“Serahkan ini di saat aku sudah tidak berada di sisinya lagi.”
#flashback End

Kyungsoo tak menyadari adanya air mata yang telah jatuh ke pipinya.


...0O0...


Keesokan harinya, Euncha kembali melewati koridor itu dan saat dia berhenti di depan ruang musik, dia mendapati seorang yeoja tinggi memandang ruang musik.

“Inta-ya!!!” Seru Euncha saat dia mengetahui kalau yeoja itu adalah teman sekelasnya.

“Ahh... Euncha. Kamu datang... aku sedang melihat – lihat saja...”

Euncha menatap matanya yang sembab karena menangis. Dia tau apa yang dia tangisi. Senyumnya sedikit jatuh kebawah, membuat wajahnya datar.

GREEP!

Dengan cepat, Euncha memeluk tubuh tinggi Inta. Masih dengan wajah datar, tapi dengan tatapan sedih.

“Aku mengkhawatirkanmu.”

Inta hanya diam merasakan hangatnya tubuh yeoja mungil itu. Pelukan itu tak kalah hangat dengan namja yang pernah dekat dengannya. Dia merasa air matanya tak bisa berhenti keluar. Dia mempererat pelukan itu sambil terus terisak.


...0O0...


Kyungsoo melangkah perlahan menuju taman sekolah mendekati Euncha dan Inta yang tengah duduk di bangku taman, terlihat Inta bersandar di bahu Euncha dengan wajah sedihnya. Kyungsoo bisa menatap matanya yang sembab, seperti sudah menangis berhari – hari.

“Yaa... Inta-ya. Kamu...”

“Aku baik, kok. hanya saja... melupakan dia itu... susah banget.”

Inta memotong perkataan Kyungsoo dengan tatapannya yang masih sama. Lalu Kyungsoo menatap Euncha yang masih terlihat datar tanpa sepatah katapun. Karena menyadari adanya Kyungsoo di depannya, dia langsung membuyarkan lamunannya dan tersenyum santai.

“Ah... Kyungsoo... kamu...”

“Jangan mengelak lagi, deh!” Seru Kyungsoo tak sabaran, “Aku tau kalian semua masih mengingat Chanyeol, tapi jangan terus bersedih begini!!”

Inta yang bersandar di bahu Euncha langsung terkejut dengan seruan tegas Kyungsoo, begitu juga Euncha.

“Ingat! Dulu Chanyeol selalu berusaha keras untuk menahan rasa sakit dari penyakitnya dengan sikap positifnya dan senyumannya. Masa kita yang sudah ditinggal olehnya tak bisa bersikap sama sepertinya?”

Kyungsoo terengah – engah setelah mengatakan semua kalimat itu, benar – benar tak sabaran. Euncha melangkah satu langkah ke arah namja itu dengan menatap kedua matanya. Lalu memegang leher belakangnya dan mendekatkan bibirnya pada telinganya.

“Mianhae...”


...0O0...


Saat dalam pelajaran, Kyungsoo hanya memandang keluar jendela. Termenung keras tentang apa yang terjadi tadi. ‘Apa aku terlalu keras dan memaksa?’, Itulah yang terus ada di pikirannya, rasa bersalah terus menghantui dirinya.

“Aku harus melakukan sesuatu!”


...0O0...


Terlihat Euncha tengah menunggu seseorang di depan sebuah cafe di pinggiran kota Seoul dengan wajah berseri – seri. Dia tak pernah sesenang ini sejak kenangan itu terus terkuak, dia tengah menunggu seseorang yang menurutnya spesial selain Inta. Pacar mungkin? Tak mungkin.

“Mianhae... aku lama, eoh?”

Seorang namja yang tingginya setara dengannya menghampirinya dengan senyuman tulus. Euncha langsung tersenyum lebar melihat senyuman itu.

“Ah... Gwenchana. Aku sudah biasa, kok.” Kata Euncha masih tersenyum

“Yakin?”

“Kalau enggak, kenapa aku tersenyum?”

“Hmmm... benar juga.”

Euncha langsung menarik lengan Kyungsoo masuk ke cafe dengan semangat. Mereka sama – sama memesan cappucino dan mereka duduk di dekat jendela.

“Ya! Kenapa kamu mengajakku ke sini? Tak seperti biasanya.” Euncha mulai membuka pembicaraan.

“Eeeee... aku hanya ingin membawamu ke tempat yang tak biasa. Kamu tak suka?”

“Ahh... aku suka sekali. Suasananya juga tenang. Tak salah kamu memilih cafe ini.”

Kyungsoo hanya tersenyum senang melihat senyuman Euncha yang memang terlihat senang. Lalu Euncha memfokuskan pandangannya keluar jendela, senyumnya terlihat damai menyatu dengan sinar matahari yang mengenai wajahnya.

“Aku ingin jadi seseorang yang berharga bagimu.” Bisik Kyungsoo sambil menatap cappucino miliknya.

“Mwo?”

“Ahh... bukan apa – apa.”

Kyungsoo terlihat berusaha tenang dan tak memikirkan kalimat itu lagi. Euncha masih terlihat bingung. Sepertinya ada yang ingin dia katakan, itu yang ada di benaknya. Dia langsung tersenyum pada Kyungsoo seperti bocah polos di kartun yang biasa dia tonton.

‘Senyumanmu itu... tak pernah bisa terlupakan...’ Kyungsoo tersenyum senang.


...0O0...


Saat mereka keluar dari cafe itu, Euncha melihat ada sebuah taman kecil di depan cafe tersebut.

“Kyungsoo-ya! Lihat! Ada taman di depan sini! Jalan ke sana, yuk!” Kata Euncha antusias, seperti biasa.

“Ah... Benar juga. Eh! Tunggu!”

Tiba – tiba Kyungsoo terlihat sibuk menggeledah isi saku celananya, seperti ada sesuatu yang tertinggal.

“Wah! Ponselku masih tertinggal d cafe, tunggu sebentar, eoh!”

Sepeninggalnya Kyungsoo menuju ke cafe, Euncha hanya diam di depan cafe sambil menatap taman itu.

‘Kenapa aku tak pergi ke sana duluan? Jadi Kyungsoo bisa mencariku dulu. Jadi seperti petak umpet, nih!’ Gumam Euncha dalam hati, sambil tersenyum sendiri.

Tanpa ambil pusing, dia menyeberang jalan di dekatnya. Namun tiba – tiba dari samping ada sebuah truk melintas ke arahnya. Seketika tubuhnya terpelanting dan pandangannya menjadi gelap.

Ketika Kyungsoo keluar dari cafe, terlihat banyak kerumunan orang di jalan raya depan cafe. Perasaannya mulai tak enak ketika dia tau bahwa Euncha tidak ada di sekitar sini. Dia langsung menyerbu kerumunan itu dan tak menyangka bahwa korbannya adalah...


...0O0...


Inta tengah meratapi makam Chanyeol seperti biasa, sambil membawa seikat bunga dan MP3 berisi lagu buatan namja itu. Hingga dia mendapati seorang namja lain yang tak lain adalah Kyungsoo. Di pipinya terdapat setetes air mata yang sepertinya baru saja jatuh.

“Euncha... dia...”

“Gwenchana! Aku sudah tau. Kamu yang sabar, eoh.” Inta memotong pe

Kyungsoo mengantarnya ke sebuah makam lain yang terlihat masih baru. Kyungsoo meletakkan seikat bunga di atas makam tersebut. Inta hanya menatapnya sambil menahan air matanya.

“Kamu bilang, kita tak boleh terus bersedih. Tapi sekarang akhirnya aku bisa melihat air matamu jatuh.” Gumam Inta di tengah keheningan.

“Aku tau, kehilangan dua orang yang sangat berharga adalah sangat menyedihkan. Aku berusaha menahan semuanya, tapi kali ini aku tak bisa!”

Inta menatap Kyungsoo dengan prihatin, dia tau persaan Kyungsoo saat ini karena telah menahan rasa sakit yang amat dalam.

“Kamu menyukai Euncha, kan?” seketika Kyungsoo terkejut, “Jika tidak, kamu tak akan mengeluarkan air matamu itu.”

Kyungsoo mengangguk lalu menatap wajah Inta yang datar mengatakan hal itu. Semua kembali hening, menatap makam tersebut.

“Euncha, jangan lupakan kami...”


END


Yooo! What’s up!!! Kembali bersama Erza Noorfatma si author baru dengan Fanfic baru lagi! Kali ini, FanFic ini merupakan sekuel dari Moonlight yang tokoh utamanya Chanyeol. Semoga banyak yang suka dan aku terus ngepost banyak FanFic lain

Annyeong <3

Minggu, 01 Mei 2016

[FF] FanFiction - Butterfly (Vocaloid Ver.)

Butterfly (Vocaloid Ver.)



Author: Erza Noorfatma
Genre: Friendship
Cast: - Shi Meiko (Kim Namjoon)            - Kim Shiyu (Kim Taehyung)
- Jung Kaito (Jung Hoseok)             - Ki Kim Len (Min Yoongi)
- Hyun Miku (Jeon Jungkook)        - Ki Kim Rin (Park Jimin)
-  Mi Luka (Kim Seokjin)


          Kim Shiyu bersandar pada dinding bangunan tua. Air mata jatuh ke pipinya yang kotor. Ia melihat tangannya. Jauh lebih kotor dari pada pipinya. Kedua tangannya berlumuran darah. Darah yang tampaknya masih segar. Masih teringat jelas kejadian itu,

          #flashback
          Shiyu menatap seseorang tengah menghakimi masternya dengan kasar. Lalu dia melihat sebuah botol kaca dekat pintu ruangan itu. Tanpa pikir panjang, dia meraih botol itu dan mendobrak masuk ke ruang studio...

          Duaaakkk...

          Shiyu langsung memukulkan botol pada orang yang tak dikenalnya hingga  botol ditangannya pecah menjadi pecahan beling yang tajam. 

          “Jangan... sentuh... Master-ku!!!”

          Duaakk... Duaakk... Duakkk...

          Shiyu terus menusuk orang itu tanpa ampun, hingga sang master mendorongnya dan menjauhkan Shiyu dari si orang itu. Shiyu mulai menyadari apa yang telah dia lakukan. Dia telah membunuh orang itu.

          “Tidak... ini tak mungkin...”

          Shiyu hanya tercengang dengan syok-nya, sang master menghampiri Shiyu untuk berusaha menenangkannya. Tapi Shiyu justru melarikan diri dari sang master.

          #flashback END


 Ia berusaha membersihkannya dengan menggosokkan tangannya ke pipinya. Sadar itu tidak berguna, ia membersihkan tangannya dengan air dari dalam botol. Air itu mengalir keluar dari dalam botol, membersihkan tangan Shiyu. Shiyu juga berusaha membersihkan baju putihnya yang kotor terkena cipratan darah. Namun Air tidak bisa membersihkan noda dibaju.

Shiyu mengeluarkan handphonenya dan mencoba menelpon seseorang.

"Eonnie... Aku ingin bertemu denganmu..."


...0O0...


Shiyu melangkah & terus melangkah. Membawanya kesebuah lapangan besar. Sebuah kasur usang terletak ditengah lapangan iu. Taehyung berbaring diatasnya. Ia memejamkan matanya sejenak. Silau. Ia sudah tidak terlalu mempedulikannya. Ia fokus pada foto yang sedang ia genggam. Di foto itu ada dirinya bersama sang master dan pengisi suaranya, Kim Dahee. Merasa muak pada foto itu, ia meremasnya lalu kembali menatap langit. Lalu dia memejamkan matanya sejenak.

Angin berhembus pelan membuat bunga bunga bergoyang goyang. 3 yeoja dan 2 namja tengah berjalan menghampiri Shiyu tanpa ia sadari. Mereka Meiko, Kaito, Miku, Len, & Rin. Mereka berkumpul mengelilingi Shiyu yang masih belum menyadari kehadiran mereka. Meiko mengguncang bahu Shiyu pelan.

" Apa yang kau lakukan disini? ", tanyanya sambil tersenyum.

Meiko membantu Shiyu berdiri. Shiyu tersenyum senang dikelilingi teman temannya. Mereka bahagia. Bermain bersama seperti anak – anak.

Saat mereka sedang mengobrol dan bercanda bersama, Miku menyadari bahwa ada seseorang yang sedang merekam mereka.

" Oh, itu Luka Eonnie! ", Miku menunjuk kearah yeoja yang sedang merekam mereka dengan handycamnya.

Luka berlari menghampiri mereka, Shiyu memeluknya erat. Sekarang mereka semua lengkap. Shiyu melepas pelukannya, lalu Luka merekam Shiyu, Kaito, & Len yang sedang berpose dengan jarinya membentuk huruf V kearah kamera. Shiyu memang dekat dengan 2 namja tersebut.

Miku mendorong kencang sebuah trolly dengan Meiko diatasnya. Meiko yang biasanya terlihat serius, berteriak penuh kegembiraan dan kegirangan. Sementara itu Luka sibuk merekam mereka sambil berdecak kagum. Puas dengan permainan tadi, Luka dan Miku bermain adu panco.

“Ayo, Kaito! Lawan aku!”

Sementara Rin bermain ranting yang dijadikan pedang bersama Kaito. Meiko, Len, Miku menari dengan aneh sambil direkam Luka sambil tertawa tawa. Shiyu bergabung, dan juga menari dengan gaya anehnya, seolah energi mereka tidak ada habisnya.

Di tengah tengah kegembiraan itu, Kaito yang lelah tertidur sambil bersandar di dinding.

“Noona, ambil gambarku dengannya, dong!”

 Len menghampirinya lalu meminta Luka untuk memotret mereka berdua. Sebelum Luka memotret mereka, Miku berlari lalu bergabung disebelah Len. Kaito terbangun. Sejenak tampak tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kaito sadar apa yang terjadi lalu berpose bersama Miku & Len dan membentuk jari mereka membentuk huruf V.

Setelah itu Len, Rin, Miku, Kaito, Meiko & Luka duduk bersama sama diatas sebuah dinding bangunan. Luka masih merekam semua dengan handycam miliknya

Sedangkan Shiyu memanjat sebuah bangunan. Memandang semua temannya dari atas dan memandang pemandangan di depannya.


...0O0...


Mereka ber 7 duduk mengelilingi api unggun. Luka menawarkan pretzel mini kepada Rin, Rin menunjukkan pretzel miliknya namun tetap mengambil pretzel yang ditawarkan Luka lalu menunjukkan cara memakannya pretzel mini tersebut dengan imut. Sementara itu Meiko & Len sedang bersulang dengan botol bir mereka. Mereka berdua berakting seolah – olah mereka tengah mabuk. Kaito tidak mempedulikan hal itu, ia hanya duduk di sofa sambil memainkan korek api. Pandangannya kosong. Miku yang mungkin agak lelah, memutuskan bersandar di atas sofa juga dan menggunakan pundak Kaito sebagai bantal.

Luka mengeluarkan sebuah foto bergambar laut dari dalam kantung celananya dan memandangi foto itu sejenak sebelum menoleh pada Rin. 

"Kita... Bagaimana kalau kita pergi kesini? ", Luka menunjukkan foto itu pada Rin. Rin mengangguk dengan antusias.

Luka menatap Shiyu yang sedang bertopang dagu berharap mendapatkan jawaban yang sama seperti jawaban Shiyu, Shiyu mengangguk setuju. Yang lain tampaknya juga setuju. Miku yang sedang bersandar, bangun dan melihat foto itu. Tetapi ia tidak menjawab apa apa. Ia justru meniup api yang berasal dari korek api yang sejak dari tadi Kaito mainkan. 

Semuanya pun menjadi gelap.


...0O0...


          Mobil yang membawa mereka ber7 melaju kencang. Angin pantai menerpa muka mereka. Senyum terus mengembang di wajah mereka. Pantai itu sepi. Hanya ada mereka. Itu bagus, setidaknya tidak akan ada yang terganggu dengan teriak teriakan mereka. Mereka semua melompat dari mobil dan mulai berlarian serta melompat sepanjang pantai. Luka merekam momen kebersamaan mereka. Semoga momen kebersamaan ini bisa terekam selamanya dalam memori mereka


...0O0...



          Miku merentangkan tangannya, berusaha menghirup udara segar sambil berjalan mengikuti yang lainnya. Mereka ber7 berdiri di atas dinding yang berada di pantai sambil melayangkan pandangan ke arah lautan. Burung Camar terbang bebas menghiasi langit sore.

Sementara yang lain fokus pada pemandangan laut di hadapan mereka dan Luka yang masih asik merekam yang lain, Shiyu menatap sebuah bangunan tinggi yang terbuat dari susunan tiang tiang. Tampaknya bangunan itu belum selesai dibangun. Shiyu mengalihkan pandangannya dari bangunan itu dan menoleh kearah lainnya. Menatap mereka sebentar lalu bangkit dan memakai hoodienya sambil berjalan kearah bangunan itu. Ia memanjat bangunan itu tanpa takut. Luka yang melihatnya tampak bingung dengan aksi Shiyu, namun ia merekam aksi Shiyu dengan handycamnya. Shiyu sudah sampai diatas bangunan itu. Yang lain menyadari tentang Shiyu & memerintahkannya untuk segera turun. Mereka takut Shiyu melakukan sesuatu yang berbahaya.

“Shiyu-shi! Cepat turun! Ppali! Apa – apaan kau!!” Begitu teriakan mereka membuat Shiyu menengok mereka sejenak.

          Shiyu hanya tersenyum pada mereka dari atas. Sepertinya menolak untuk turun. Ia bersiap untuk berlari. Apa yang ditakutkan yang lain, kali ini terjadi. Taehyung melompat. Mungkin bagi yang lain ia terlihat sedang melompat. Tetapi bagi Shiyu, ia terbang seperti kupu kupu. Terbang menuju kebebasan yang abadi. Tidak perlu lagi merasa bersalah. Ia sudah bebas. Sangat bebas.


END



          What's up!!! Kali ini FanFic ini bertemakan Vocaloid. Terinspirasi oleh MV Prologue milik BTS. Karena lagi bosen, akhirnya ngebikin FanFic macam ini (aku jamin ini pasti geje :'( ). Tapi terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca FanFic ini.
          Annyeong <3

Sabtu, 30 April 2016

[FF] FanFiction - My Friend Is A Ghost

My BoyFriend Is A Ghost





Author: Erza Noorfatma
Genre: Fantasy, Horror (?), Friendship, Comedy
Cast: Byun Baekhyun(EXO), Kim Salna(OC)


          Dunia ini rasanya sangat aneh, apa hanya perasaanku saja? Bukannya dunia ini terbagi jadi dua alam? Tapi mengapa aku bisa melihat alam itu selain alam yang aku tempati? Apa hanya aku yang merasakan hal ini?


...0O0...


          Seperti biasa, Salna berada di sekolah, tepatnya di salah satu koridor sekolah yang rada sepi. Koridor yang banyak dibilang kalo koridor tersebut angker adalah jalanan yang selalu Salna lewati di sekolah. Salna tak pernah mempercayai semua rumor yang tersebar di sekolahnya, menurutnya itu hanya fiktif belaka, seperti drama – drama yang sering dia tonton. Hingga dia bertemu sosok itu hari ini...

          “DORR!!”

          Salna melompat kaget mendengar suara nyaring yang menggema hampir ke seluruh koridor

          “Hahaha... Kau takut, Salna-ya?”, tanya sosok pucat itu dengan wajah berseri – seri.

          “Huh! Lagi – lagi kau, Baekhyun-ah! Maunya apa sih? Iya aku tau kalo kamu itu hantu! Tapi jangan terus – terusan ngagetin aku, dong!!”, Salna tak kalah kesalnya.

          “Soalnya kamu mudah dikerjain, jadi enak, dong!”

          “Enak aja! Masa cuma aku targetmu untuk dikerjain? Bisa – bisa aku kasih kamu ketimun, lho!”

          “Ah... sudahlah! Nanti aku akan mengerjainmu lagi. Annyeong!”

          “Huuuhh! Denger ketimun saja langsung lari! Gimana sih!!”

          Lalu dia pergi entah kemana, Salna hanya memanyunkan bibirnya. Dia bahkan heran kenapa dia menyukai mahluk yang sejak 3 tahun menemani hidupnya yang sepi. Baekhyun pernah bercerita kalau dia meninggal saat menyelamatkan seseorang dan dia mulai muncul sehari setelah dia meninggal dia juga berkata kalau Salna sudah benar-benar bahagia dia sudah bisa melepas kepergian yeoja mungil itu. Sampai sekarang, Salna masih bingung dengan kalimat ‘sudah bisa melepas kepergian’ itu,tapi dia tidak pernah memusingkan hal tersebut.

          Tak jarang Salna dan Baekhyun saling mengerjai satu sama lain.Salna yang mudah terkejut dan Baekhyun yang tidak suka dengan ketimun.Tak jarang pula merasa nyaman kalau berada di samping Baekhyun,walaupun Baekhyun sendiri bukanlah manusia lagi.


...0O0...


          “Salna-ya!!”

          Suara kencang dari mulut pintu kelas itu menggema hingga ke gendang telinga Salna hanya duduk di bangku kelas. Teriakan itu bukan berasal dari sosok yang sering dia temui, melainkan dari seorang yeoja yang sangat mengenal Salna, wajahnya sangat bersemangat ditambah senyum ceria di bibirnya.

          “Hmmm... Oh Nanhyun. Ada apa, sih? Itu muka santai aja, tau!!” Salna terlihat merasa geli akan tingkah yeoja itu.

          “Ada sesuatu yang harus kamu lihat di papan pengumuman! Buruan!!”

          Lalu, Nanhyun menarik lengan Salna dengan penuh semangat hingga berhenti di depan papan pengumuman sekolah yang dimaksud. Salna sangat terkejut dengan pengumuman yang tertera di papan tersebut.

SELAMAT!! KEPADA KIM SALNA
PERAIH BEASISWA DI SALAH SATU UNIVERSITAS CALIFORNIA
CALIFORNIA INSTITUTE OF TECHNOLOGY
SEMOGA PRESTASINYA SEMAKIN MENINGKAT DAN RAJIN BELAJAR

          ‘Ya Tuhan. Apakah ini benar?!’


...0O0...


          Seminggu telah berlalu, Salna sudah tak melihat sosok periang itu di sekitar sekolah. Dia mulai berpikir ada hal buruk terjadi padanya, walau terkadang dia sangat mengganggu. Dia memutuskan untuk mencarinya di sekitar sekolah yang tak pernah dilewati siswa lain selain koridor sekolah itu. Tak lama dia menemukannya di taman belakang sekolah yang biasanya didatangi siswa yang galau.

          “Ternyata kamu bisa datang ke sini, ya?” Baekhyun mulai bersuara.

          “Kenapa belakangan ini kau menghindar dariku?” Salna sudah kelihatan kesal begitu melihat Baekhyun

          “Bukankah itu yang kamu mau? Kamu dulu bilang kalau aku sangat mengganggumu.”

          “Ne, memang! Tapi itu kadang – kadang, kok!”

          “Bukankah kamu tengah sibuk mempersiapkan dirimu di universitas barumu?”
         
          Salna diam. Dia tau tentang pengumuman itu? itu yang ada di benaknya. Dia mulai merasa akan ada hal buruk lainnya yang akan terjadi.
         
          “Kenapa diam?” Baekhyun terlihat tak sabar.

          “Ee... sebenarnya... aku...”

          “Aku tau hari itu akan datang...”

          “Mwo? Apa maksudmu?”

          “Kamu ingat saat aku akan meninggalkanmu jika kamu sudah benar – benar bahagia? Aku tau saat kamu melihat pengumuman itu kamu terlihat bahagia, dan aku tau sepertinya tugasku sebentar lagi akan selesai.”

          “Ehh? Maksudnya?”

          “3 tahun lalu, aku adalah murid nenekmu, aku sering berkunjung ke rumahnya untuk mengerjakan tugas sekolah yang tak aku mengerti. Suatu hari, kamu datang berkunjung ke rumah nenekmu, sejak saat itu aku mulai menyukaimu, Salna-ya. Nenekmu tau kalau aku menyukaimu dan sebelum meninggal, beliau menitipkanmu padaku. Beliau bilang jangan pernah meninggalkanmu hingga kamu benar – benar bahagia.”

          ‘Jadi selama ini, dia wasiat nenek padaku.’ Gumam Salna dalam hati.

          ‘Hingga suatu hari, saat aku berangkat ke sekolah, ku lihat dirimu tengah menolong nenek yang terjatuh, tapi ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahmu, aku berusaha melindungimu dan...”

          “Jangan – jangan... kamu siswa SMA yang meninggal karena kejadian itu, kan?”, Salna melangkah mundur sambil menggelengkan kepalanya bertanda tak percaya, berharap yang dia katakan itu salah.

          Sayangnya, hal itu benar. Baekhyun hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Salna hanya bisa diam seraya mendekap mulutnya, menahan air mata yang akan jatuh ke pipi mungilnya.

          “Aku tau. Tapi sejak mengenalmu, hari - hariku tidak penuh dengan kesendirian. dan...”

          “Tapi sampai sekarang aku belum bahagia.”

          Salna memotong perkataan Baekhyun, dia kembali merasa rileks untuk berbicara.

          “Walau sebentar lagi aku akan melanjutkan sekolah di luar negeri, tapi aku yakin aku akan lebih menderita karena aku sendirian di negara asing. Ditambah lagi, aku harus melanjutkan kehidupanku di sana. Mungkin  aku akan meninggalkanmu dalam waktu yang lama dan...”

          “Gwenchana! Aku tahu kamu pasti kembali. Aku juga akan terus menjagamu walau arwahku masih disini.”

          Salna kembali diam. Yeoja mungil itu memandang wajah riang Baekhyun yang selalu bersemangat.

          ‘Sebenarnya akan sangat sulit melupakanmu.’ Salna berbisik di dalam hati.


...0O0...


          5 tahun kemudian, ...

          Salna kembali ke Korea dengan membawa setumpukan buku tebal di tangannya. Dia sudah menjadi mahasiswi S1 di Universitas terbaik di California. Dia kembali ke Korea karena ingin mengunjungi orang – orang yang dia rindukan. Setelah dia mengunjungi kedua orangtua dan temannya, Nanhyun, dia mengunjungi sebuah makam seseorang yang pernah dekat dengannya.

          “Sudah aku bilang ‘kan kalau kamu pasti kembali.”

          Terdapat suara samar – samar berada di belakang Salna, suara yang tak asing lagi baginya. Byun Baekhyun. Salna tersenyum tulus dan menghampiri sosok ceria itu dan berusaha bersikap santai seperti biasa.

          “Kalau begitu, jalan yuk!”


...0O0...


“Ternyata kamu masih menunggu, ya?” gumam Salna seraya membawa secangkir cappucino, melangkah menelusuri taman yang mereka kunjungi waktu itu.

“Kan, sudah aku bilang. Aku yakin kamu pasti kembali, walau sebentar...”

“Maksudnya?”

“Bukankah kamu akan kembali ke California? Kamu bilang, kamu ingin mendapatkan gelar S2 juga?”

“Lalu untuk apa aku di sini?”

Baekhyun berhenti melangkah, merasa ada yang aneh dengan perkataan Salna yang tak seperti biasa. Dia terdengar positif dan dewasa.

“Maksudnya?” Baekhyun kembali bersuara,

“Aku keluar dari kampus itu.” Salna bisa membaca maksud Baekhyun

“Mwo? Bukankah masuk ke kampus seperti itu adalah salah satu keinginanmu?”

“Iya. Tapi entah mengapa aku lebih betah tinggal di Korea, walau tak banyak orang yang aku kenal.”

“Tak kusangka kamu memilih tempat tinggalmu sendiri sebagai tempat kesukaanmu.”

“Aku sangat senang bisa melihat keadaan Seoul lagi.”

“Aku juga senang bisa bertemu lagi denganmu.”


...0O0...


Salna kembali mendatangi makam Baekhyun dengan menggenggam sebuah liontin bintang di tangannya.

‘Walau kita berbeda alam, kamu masih menjadi sahabat yang baik bagiku. Seandainya kamu masih manusia, aku ingin jadi pacarmu.’


END


Yooo! What’s up!! Aku kembali lebih cepat dengan Fanfic ini (mungkin menurut kalian ini rada geje :P). Kali ini, ada Request dari temanku yang lain yang ngebias Baekhyun. Bagi yang ingin request FanFic-mu bersama bias, bisa ditulis di komen di bawah. Jangan lupa Genre, Cast, dan nama hangul kalian.

Aku tunggu, lho J

Selasa, 26 April 2016

[FF] FanFiction - U Smile I Smile

U Smile I Smile



Author: Erza Noorfatma
Genre: Friendship, School Life
Main Cast: Hyun Miku (OC), Kim Taehyung(BTS),
Support Cast: Mi Luka, Bae Joohyun(Red Velvet)




          BRUKK!

          Seorang yeoja berambut biru laut itu tampak tak sengaja menabrak pundak kanan namja lain yang berjalan berlawanan dengannya di sebuah koridor sekolah. Namja itu memakai tudung kepala jaketnya membuat wajahnya tak terlihat.

          “Mianhae... Aku...”

          Namja itu tak menyahut, dia justru melanjutkan jalannya. Yeoja itu sedikit merasa tidak enak tapi di satu sisi juga sedikit kesal karena menurutnya itu tak sopan.
          Akhirnya dia berbalik melanjutkan jalannya sambil mendengus kesal.


...0O0...


          “Miku-ya! Bantu aku sebentar!”

         Saat akan masuk ke kelas, yeoja lain berambut merah jambu memanggil yeoja kesal itu sambil memeluk banyak buku lirik yang dibawanya.

          “Ah! Luka-shi! Aku kesel banget tadi!” Miku merengek kesal menghampiri yeoja yang dia panggil Luka.

          “Hah?! Wae?”

          “Tadi di koridor, aku gak sengaja nabrak seorang namja. Waktu aku minta maaf, malah gak disahutin”

          “Bukannya itu salahmu sendiri? Kan, kamu yang nabrak dia?”

          “Aku tau. Tapi minimal balik sapa, kek! Omong ‘gak apa apa’, kek! Ini malah cuek gitu kayak gak merasa ditabrak sama sekali!”

          Luka mulai merasa ada yang aneh, seperti ada yang tak asing dari namja yang dimaksud sahabatnya.

          “Tunggu. Memang siapa yang kamu tabrak?” Luka kembali bertanya.

          “Entahlah. Dia pakai tudung jaket.” Miku menjawab dengan santai.

          “Masa kamu lupa dia? Dia kan, Kim Taehyung, teman sekelasmu yang pendiam itu, kan.

          Setelah mendengar nama itu diucapkan, Miku langsung terkejut seperti mendengar petir yang menggelegar.

          “Haaahh! Jinja?!!”, Miku terbelalak, “Iya juga, sih!”

          “Nah! Gitu kamu tau! Teman sekelas aja lupa, gimana sama temannya yang lain?” Luka menepuk jidat Miku dengan gemas.

          “Bukan begitu. Dia kan sudah pendiam, misterius, jarang disapa. Kan, jadi gak dikenal.” Miku mengelak

          “iya juga, sih” Luka memasukkan buku’’ ke dalam locker miliknya. Miku mulai berpikir lagi tentang Taehyung.

          “Aku rasa dia punya sisi lain, deh.” Miku kembali bersuara

          “Maksudnya?” Luka menutup locker miliknya sudah kembali bertanya.

          “Mungkin saja dia punya sifat lain dan berusaha untuk menghilangkannya.”

          “Ihh!! Gak mungkin! Aku meragukannya.” Mata Luka terbelalak tak percaya.

          “Itu menurutmu. Aku yakin pasti ada sesuatu yang dia simpan. Yakin!!”, Miku 
terlihat bersemangat.

          “Haaa... semaumu saja, lah...!” Luka terlihat pasrah akan sikap sahabatnya yang sifat cheerful-nya hampir di luar batas.


...0O0...


          Pada jam pulang sekolah, Miku langsung menuju ruang kelas Luka dengan semangat berapi – api. Luka hanya memandangnya dengan senyum geli.

Tiba’’ Miku merasa tangannya digenggam erat dan tubuhnya ditarik ke suatu tempat. Setelah genggaman itu terlepas, Miku ditahan dengan tangan kiri menghadang di sisi kirinya, masih memasang wajah bingung.

          “Bisakah kau berhenti membicarakanku?”

          Suara bass yang tak dikenal itu berasal dari namja dingin pemakai jaket bertudung.

          “Ohh... kamu, Kim Taehyung. Memang kenapa kalau aku ingin tau tentangmu?” kali ini, Miku memasang wajah menentang yang sangat polos.

          “Kamu tak tau, karena tak akan ada yang mau mengetahuinya!”

          “Mana buktinya? Aku saja penasaran tentangmu!”

          Namja itu tak menjawab. Dia memalingkan wajahnya, sementara Miku masih menunggu jawabannya.

          “Kenapa saat itu, kamu tak menyapaku balik?!”

          Kali ini Miku yang bertanya, Taehyung bisa menebak arah kemana pertanyaan Miku. Taehyung masih dalam posisi semula, dengan wajah datarnya.

          Akhirnya, Taehyung meninggalkan Miku dengan pertanyaan yang masih belum terjawab. Miku merasa seperti yeoja yang diabaikan seseorang.

          “Yaaa!!! KAU BELUM MENJAWAB PERTANYAANKU!!!!”


...0O0...


          Keesokan harinya, Miku masuk ke sekolah dengan perasaan yang kesal. Miku merasa seperti tidak diberi keadilan hanya karena masalah sepele kemarin.

          “Gitu aja dimasalahkan. Lebih baik lupakan sajalah.” Kata Luka saat dia mengunjungi kelas Miku.

          “Tapi aku benar – benar ingin tau! Aku sangat yakin kalau ada yang disembunyikan!!”

          “Dengan sifat seperti itu, bisa saja kamu benar. Tapi kenapa kamu bersih keras untuk mengetahuinya? Apa kamu suka sama dia?”

          Pertanyaan Luka langsung membuat Miku salah tingkah, Luka langsung menatapnya serius dan senyum menantang. Bisa saja itu tepat sasaran.

          “Aku... eeer... bukan begitu! Aku hanya merasa kalau itu benar!” Miku mengelak.

          “Halaaahhh!! Biasanya yang mempunyai perasaan seperti itu pasti ada perasaan suka pada dia.” Luka mulai menggodanya

          “Kau ini!! Bukannya mendukungku!! Malah mengatakan yang bukan – bukan!!!” Miku mulai kesal.

          Tiba – tiba ada seorang yeoja dari ambang pintu tengah memanggil Miku yang masih berbincang dengan Luka.

          “Aku Miku. Eonnie sendiri siapa, ya?” Miku menghampiri yeoja itu. Dia memanggilnya ‘Eonnie’ karena dia tau bahwa yeoja itu adalah kakak kelas.

          “Nanti aku jelaskan. Tapi sebelum itu, ikut denganku!”

          Miku langsung ditarik seperti saat Taehyung menarik dirinya tanpa alasan, tapi kali ini dia tidak dibawa ke koridor, melainkan di atap sekolah yang jarang didatangi setiap siswa disini.

          “Eonnie... kenapa disini?” Miku terlihat bingung.

          “Kamu bilang kamu ingin tau tentang Taehyung.” Yeoja itu mulai pembicaraannya.

          “Ummm... iya, sih. Apa itu jadi masalah bagi eonnie?” Miku mulai merasa tak enak. Yeoja itu bersandar di pagar pembatas dengan tatapan sedih.

          “Aku tau bagaimana perasaanmu yang ingin tau tentang Taehyung. Aku mengenal namja itu sejak lama. Aku ingin kamu tau tentang dia.”

          “Eonnie mengenal Taehyung?”
          “Ne. Aku Bae Joohyun. Aku kakak kelas Taehyung sejak di sekolah dasar. Aku sangat mengenal Taehyung seperti adikku sendiri. Dia adalah namja yang sangat hiperaktif bahkan tingkahnya yang sangat aneh seperti spesies lain.


          #flashback

          “Noona, ada apa? Kenapa noona menangis?” seorang anak kecil menghampiri Joohyun kecil yang terlihat menangis dengan memegang secarik kertas.

          “Lihat ini! Nilaiku jatuh. Mungkin karena jam belajarku masih belum cukup.” Joohyun memperlihatkan kertas itu.

          “Apa karena noona terus bermain denganku?” anak itu terlihat sedikit merasa bersalah.

          “Aiiisshh! Bukan begitu. Walau ujian pun, aku akan terus menemanimu. Jangan menyalahkan dirimu.”

          “Tapi kalau noona terus dapat nilai buruk, aku juga ikut sedih.”

          “Ahh... sudahalah. Ambil hikmahnya aja. Lebih baik senang – senang aja.”

          Joohyun menarik tangan anak itu dengan senang dan setelah itu mereka menari gila – gilaan. Anak itu lebih hiperaktif dari dirinya, dan benar. Itu Taehyung.

          #flashback END


          Miku mendengarkannya dengan seksama, dan tak melewatkan satu kalimat dari Joohyun eonnie, karena rasa ingin taunya pada Taehyung.

         “Walaupun aku lebih tua darinya, aku selalu merasa nyaman bersamanya, karena dia selalu membuatku tertawa. Lalu aku lulus ke SMP, dan setahun kemudian, dia masuk ke SMP yang sama denganku. Tapi kami jarang berbicara, dia sering bersama 6 teman barunya.”

          Tiba – tiba perkataan Joohyun terhenti, dia memegang pagar pembatas itu, memandangi langit yang hanya ada beberapa burung yang melewati langit dan awan dengan berbagai bentuk. Miku masih diam menunggu kelanjutan dari penjelasan Joohyun.

          “Begitu aku di SMA dan setahun kemudian dia juga di SMA yang sama, dia berubah. Dia jadi sangat pendiam dan lebih tertutup. Entah apa yang terjadi aku tak tau, tapi saat aku mencoba berbicara dengannya seperti biasa, dia membentak bahkan menghindar...”


          #flashback

          “Taehyung-ah! Kamu masuk ke SMA ini juga, ya?”

          Joohyun menghampiri Taehyung saat dia mengetahui bahwa namja itu telah masuk ke sekolah itu dan telah mengetahui kelas apa dia berada. Tapi Taehyung hanya diam. Dia berbalik dan tak menjawab sapaan noona-nya itu.

          “Aku hanya ingin mengucapkan selamat karena kamu sudah bekerja keras sampai sekarang.”

          “Itu bagus. Sekarang pergilah!”

          Gumam Taehyung tanpa berbalik menghadap Joohyun. Senyum yang terukir di mulut Joohyun seketika luntur dengan mendengar perkataan kasar Taehyung seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.

          “Ah... Taehyung-ah... wae-yo?”

          “Apa noona tak dengar tadi? PERGILAH!!!”

          Sebuah bentakan yang amat keras sukses membuat Joohyun mundur satu langkah, seperti signal untuk segera pergi dari sini. Taehyung yang berbalik ke arah noona beberapa saat itu langsung berbalik melanjutkan jalannya.

          “Mwo...?” Joohyun masih terpaku di tempat dia berdiri. Matanya mulai terasa basah dan setitik air mata jatuh ke pipinya.

          #flashback END


          Miku tampak merasa kasihan akan cerita sedih itu. Dia menyangka bahawa dulu sifatnya sangat berbeda dengan yang ini, lebih cheerful seperti dirinya.

          “Begitu aku sudah berpacaran dengan Park Jimin, dia semakin menghindar dariku. Aku tak bermaksud untuk menghindar darinya, tapi sepertinya aku sudah tak bisa menemuinya secara langsung lagi.”

          “Itu tak benar, eonnie.” Akhirnya Miku bersuara setelah sekian lama diam mendengarkan penjelasan panjang itu, “Mungkin dia menghindar dari eonnie agar tidak merusak hubungan eonnie dengan Jimin...”

          “Tapi aku yakin kamu bisa menjadi temannya.” Joohyun memotong kata – kata Miku.

          “Mwo? Aku? Kenapa aku?”

          “Karena hanya kamu yang percaya bahwa dia memiliki sisi lain dari sifat dinginnya itu. Walau banyak juga yeoja yang menyukai dia, tapi mereka hanya menilai dari penampilan dia saja.”

          “Aku hanya merasa kalau dia memiliki sifat lain itu, tapi aku tak pernah terpikir kalau sifat itu... sama denganku.”

          Joohyun menatap Miku secara cermat, memang rada polos seperti Taehyung yang dulu. ‘memang benar, sih. Anak ini memang polos, tak beda jauh dengan Taehyung.’ Gumam Joohyun dalam hati.

          “Tapi aku mohon, jadilah teman Taehyung. Kalau aku tak bisa, mungkin kamu bisa seperti dirinya.”

          Setelah mengatakan itu, Joohyun pergi meninggalkan Miku yang masih mencerna kalimat itu. Angin menerpa rambut biru lautnya.

          ‘Apa iya... itu sifat lama Taehyung?’


...0O0...


          ‘Tapi kenapa dia jadi berubah seperti ini?’

          Miku masih berpikir keras dengan perkataan Joohyun di atap tadi. Di kelas, dia masih memikirkan bagaimana cara agar lebih tau tentang Taehyung, tapi sangat sulit untuk mencari Taehyung, karena dia jarang terlihat di lingkungan sekolah. ‘Gimana, ya?’

          “Yaaa!! Kau yang menatap ke luar jendela! Arahkan pandanganmu ke sini!!”

          “Ahh... maafkan saya.”


...0O0...


          Jam pulang sekolah telah datang, Miku keluar dari kelas dengan lesu. Lalu dia melihat Taehyung keluar dari kelas dengan buru – buru. Tumbuhlah rasa curiga pada diri Miku dan tanpa ambil pusing, dia mengikuti Taehyung diam – diam.

          Miku berhenti beberapa langkah dimana Taehyung berhenti di salah satu koridor dimana dia tiba – tiba dikelilingi namja lain yang tak dikenalnya.

          “Yaaa... yang kemarin itu kamu sengaja, eoh?”

          Namja lain mulai berbicara dengan kasar dan mendorong Taehyung ke dinding dengan keras. Taehyung masih memandangnya dengan malas. Miku masih mendengarkan apa yang sedang dibicarakan.

          “Yaaa! Kamu kenapa diam? Kamu takut?” kata namja lain yang terlihat menentangnya.

          “Untuk apa aku takut sama kalian?” Akhirnya Taehyung mulai berbicara.

          “Waaahh...!! Mulai ngelawan, nih! Kamu mau ini, huh?!”

          Buuukk!

          Satu pukulan telak mendarat ke wajah Taehyung membuat Taehyung langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.

          “Ihh... gitu aja langsung ambruk? Bangun, wooiii!!”

          Namja itu menarik kerah baju Taehyung dan memukulinya sekali lagi.

          “CUKUP!!! KUBILANG CUKUP!!!”         

          Suara kencang itu berasal dari Miku di ujung koridor, wajahnya sudah sangat kesal sampai membuat bayi menangis.‘Mwo? Apa – apaan yeoja ini?’ gumam Taehyung dalam hati.

          “Wah, wah. Tiba – tiba ada yeoja cantik datang, nih! Sama aku, yuk!!”

          Duaaaaakkkk!!!!!!

          Satu lagi pukulan keras yang tak kalah kerasnya dari yang didaratkan namja itu ke Taehyung. Tapi kali ini yang memukul itu adalah Miku. ‘yeoja ini...’ Taehyung langsung terpaku melihat kejadian anti-mainstream itu.

          “Woaaaa... cantik cantik mukulnya keras banget! Kabur, yuk!”

          Para namja itu langsung melarikan diri meninggalkan koridor tersebut dengan ketakutan. Taehyung menatap kepergian para namja itu.

          “Syukurlah, kamu tak apa – apa, Taehyung-ah!”


...0O0...


          Miku membawa dua kaleng soda untuk dirinya dan Taehyung. Mereka tengah duduk di bangku taman di sekolahnya. Angin menghembus membuat rambut kedua insan tersebut.

          “Kamu ini benar – benar nekat, eoh!” Gumam Taehyung yang sedari tadi tidak membuka kaleng sodanya.

          “Memangnya kenapa? Tadi itu bahaya sekali, lho! Asal kamu tau, aku melakukan ini untukmu. Seharusnya kamu berterima kasih padaku!” Kata Miku setelah meneguk seperempat dari isi kaleng soda miliknya.

          “Memangnya kamu tau apa tentangku dan hidupku, hah?!”

          “Bukannya kamu namja hiperaktif yang jadi pendiam itu, kan?” Miku balik bertanya dengan santai dan tatapan malas ala yeoja yang malas bangun di Minggu pagi.

          “Itu semua dari Joohyun eonnie.”

          “Memangnya apa yang dia tau tentang aku?”

          “Kau berubah.”

          Kalimat terucap dari Miku langsung membuat Taehyung langsung memutar otaknya. Miku memalingkan pandangannya ke arah langit biru yang cerah.Taehyung kembali menatap Miku dan dia rasa Miku ada benarnya.

          “Sebenarnya apa masalahmu, hah? Joohyun eonnie saja sampai kepikiran tenatangmu.” Miku kembali menatap Taehyung. Terjadilah eyes contact yang tak diduga. Mereka kembali memalingkan pandangan mereka bersamaan.

          “Kamu tentunya tau kalau sewaktu SMP aku dekat dengan 6 teman baruku dan tak pernah memperhatikan Joohyun eonnie. Tapi ada hal lain yang tak kamu tau tentangku darinya.”

          Taehyung memberi jeda dalam kalimatnya untuk sementara, seperti belum mampu mengulah masa lalu dirinya sendiri yang membingungkan. Miku mendengarkannya secara teliti, dengan tatapan yang masih polos.

          “Aku berteman dengan mereka karena mereka bisa menghiburku setiap saat. Kalau aku menghampiri Joohyun noona, kegiatan yang dia lakukan jadi terganggu karena aku.”

          “Yaa.. dia tak pernah berpikir seperti itu. Lalu untuk apa dia mengatakan semua itu padaku?”

          “Aku selalu menghabiskan bersama mereka. Hingga saat kami kelas IX, di suatu malam.” Dia kembali memberi jeda pada perkataannya, “Saat aku pulang bersama Seokjin hyung, kami dicegat seseorang, yang jelas dia mengenal Seokjin hyung. Dia menggiring kami ke suatu tempat, dan menyerang kami habis – habisan. Seokjin berusaha menlidungiku, tapi yang terjadi dia terbunuh dalam pertarungan itu, aku menangis sangat keras saat melihat kejadian itu dengan mataku sendiri. Yoongi hyung selalu menyalahkanku karena waktu itu aku tak bisa melindungi diriku sendiri. Dan setelah itu, kami berpencar di SMA. Ketika kami saling bertemu, kami tak pernah saling menyapa, dan itu membuatku jadi seperti ini.”

          Miku hanya memiringkan bibirnya mendengarkan kisah Taehyung yang bisa dibilang rada tragis itu. Tak sengaja, Miku melihat setitik air mata jatuh ke pipi Taehyung.

          "Tapi kamu masih beruntung, lho." Miku membuyarkan keheningan itu. Saat Taehyung akan bertanya, Miku melanjutkan maksud mengapa dia mengucapkan kalimat itu.

          "Masih beruntung karena kamu tak diberi masalah seperti itu dari kecil. Sedangkan aku sejak masih bayi tak pernah tau siapa sebenarnya orangtua kandungku."

          Taehyung terkejut bukan main dengan kalimat yang dilontarkan Miku tentang dia yang tak mengetahui siapa orangtuanya yang sebenarnya. Miku terlihat masih tersenyum tapi matanya menunjukkan tatapan yang sendu.

          "Sejak kecil, aku dan Luka tak pernah tau orangtua kami. Lalu kami diasuh oleh keluarga Kim dimana mereka sudah memiliki 2 anak kembar yaitu Kim Ki Rin dan Kim Ki Len. Begitu sudah berumur 7 tahun, kami sudah tak mempermasalahkan hal itu lagi. Kami diasuh seperti anak mereka sendiri sampai sekarang."

          Miku kembali tersenyum tulus pada Taehyung. Namja bersuara bass itu terlihat mendalami cerita Miku tapi wajahnya terlihat acuh tak acuh.

          "Menghadapi hidup ini mudah aja, kok. Cukup tersenyum pada setiap orang yang kamu sayangi."

          Taehyung kembali memutar otaknya ketika Miku kembali bersuara. Kalimat itu seperti tak asing terdengar oleh Taehyung, seperti kalimatnya dulu sewaktu SMP. Tiba'' dia jadi teringat bahwa dia tak pernah bertemu dengan Joohyun noona yang merupakan teman masa kecilnya.

          "Dia meridukanmu, Taehyung-ah." Miku berbalik menatap Taehyung, sepertinya dia bisa membaca pikiran Taehyung, "Walau dia sudah punya pacar, dia masih memikirkanmu, lho! Dia juga masih berpikir bahwa kamu adalah adiknya."

          Taehyung mulai merasa bersalah akan sikapnya yang selama ini selalu dingin pada setiap orang, terutama pada Joohyun. Bahkan terakhir kali dia bertemu dengannya, membentak yeoja berambut pirang itu dengan keras.

          "Ahh... Sudah hampir sore, nih. Aku harus pulang sekarang, annyeong."

          "Tunggu!"

          Saat Miku beranjak dari tempat duduknya dan berbalik badan, dia merasakan dekapan hangat menyelimuti dirinya dari belakang. Taehyung.

          "Kamu benar. Kamu 100% benar. Aku terlalu memikirkan diriku sendiri, sampai melupakan Joohyun noona, teman masa kecilku. Aku tak mau terus menerus seperti ini."

          Miku merasakan dekapan Taehyung yang begitu hangat, lebih hangat dari dekapan nyonya Kim yang selalu memberi pelukan yang nyaman. Miku merasa sangat lega saat Taehyung mengatakan semua itu, dia bisa menangkap maksud dari namja itu. Miku tersenyum dalam dekapan

          "Kamshahamida... Miku-ya."


...0O0...


          Keesokan harinya, Miku berjalan ke sekolah dengan perasaan yang amat senang. Dilihat burung - burung yang mondar - mandir di langit, angin musim semi yang sangat hangat bertiup perlahan. Dia merasa akan ada hal baik yang akan terjadi hari ini.

          Saat sampai di sekokah, dia buru - buru menuju ruang kelasnya. Dilihatnya seorang namja yang tengah berbincang dengan namja lain dengan semangat.

          "Miku-ya! Kamu sudah datang, eoh?" Teriak namja bersuara bass itu dengan riang, membuat Miku langsung tersenyu lebar melihat senyumannya

          Kemudian saat istirahat berjalan, Miku berada di ruang musik sekolah dan memainkan keyboard. Hingga dia dikejutkan oleh seseorang, yang jelas bukan Luka. Taehyung.

          “Wah! Aku juga suka musik, eoh? Aku juga.”

          “Ehh... Ne. Aku suka memainkan keyboard dan membuat sebuah lagu.”

          “Ayo kita coba nyanyikan lagu buatanmu!”

          “Ahh... baiklah!!”

          Dengan semangat, Miku mengeraskan volume Keyboard dan mereka menyanyi dengan riang hingga menggema ke seluruh ruang musik.

          ‘Aku tau kamu punya sisi lain, Taehyung-ah. Dan itu tak jauh beda denganku.’


END


Annyeong Haseyo *Apaan sih!*, Aku kembali dengan Fanfic yan anti mainstream, soalnya karakter dalam FanFic ini berasal dari member BTS(yang jelas tau itu siapa) dan Hatsune Miku. Ini adalah salah satu bentuk kecintaanku *wanjer* pada Hatsune Miku yang imut dan lucu ini. Oh iya, satu lagi. Mianhae, sudah lama gak ngepost FanFic karena lagi gak ada ide :P Tapi jangan khawatir, doakan aja semoga FanFic selanjutnya cepet kerilis *Ogah, ah!* dan sekali lagi, aku minta maaf dan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca FanFicku.

          Annyeong <3