Minggu, 08 Mei 2016

[FF] FanFiction - Memories (Sekuel 'Moonlight')

Memories




Author: Erza Noorfatma
Genre: Romance, Friendship, Sad
Main Cast: Noor Euncha(OC), Do Kyungsoo(EXO), Zha Inta(OC)




Euncha melangkah perlahan menelusuri koridor sekolah dengan wajah lesu tak bersemangat, seperti ada sesuatu yang terus dia pikirkan. Dia menatap setiap lantai yang dia lewati sambil mengingat semua kenangan itu.

‘Bagaimana kabarmu sekarang, ya?’

Dia berhenti melangkah di depan ruang musik dimana dia biasa bertemu dengan temannya, teman lamanya. Kenangan itu mulai terputar lagi di pikiran yeoja mungil itu.

“Sudah 1 tahun, eoh?”

Suara namja terdengar dari belakangnya. Namja lain yang dia kenal dan selalu dekat dengannya, walau dia terlihat lebih serius dari dirinya. Kyungsoo. Namja itu menatap Euncha dengan senyum miring yang tak asing baginya. Euncha akhirnya tersenyum lebar dan menghampiri namja itu dengan penuh semangat.


...0O0...


“Sudah setahun kita kehilangan dia...”

Euncha duduk di bangku taman sekolah yang kosong diikuti oleh Kyungsoo, wajahnya kembali sedih saat dia mengucapkan kalimat itu. Kyungsoo menatap wajah temannya dengan prihatin, dia tau apa yang dimaksud dengan ‘dia’.

“Kamu masih sulit melupakan dia?” kata Kyungsoo lirih, Euncha mengangguk.

“Memang sulit melupakan namja seperti dia...”

#flashback
“Lihat!! Akhirnya lagu ini sudah selesai!!”

Seru seorang namja tinggi menunjukkan secarik kertas berisi lirik lagu miliknya pada Euncha dan Kyungsoo. Namja tinggi yang sangat bersemangat.

“Woaa! Daebak, Chanyeol-ah!! Aku yakin Inta pasti suka!” Euncha juga terlihat antusias dengan lagu itu. Kyungsoo hanya tersenyum bangga akan lagu itu.

“Aku harap dia akan menyukainya...” terdapat sedikit jeda dari kalimatnya, tatapannnya menjadi sedih. Euncha dapat menangkap tatapan itu. tatapan khawatir.
#flashback End


“Iya, sih. Dia sangat menyenangkan, selalu positif walau dia memiliki penyakit itu. seandainya dia masih bisa bertahan lebih lama.” Kyungsoo kembali bersuara dan membuyarkan lamunan Euncha.

“Tapi... mungkin memang sudah waktunya. Aku yakin dia akan baik – baik saja.”

“Lalu... Apa yang terjadi dengan Inta?”

Euncha diam. Wajahnya masih diliput aura kesedihan, bahkan mengenai temannya.

“Dia...” Euncha kembali menjeda kalimatnya sesaat, “Sudah seminggu ini aku tak melihatnya. Aku khawatir dia kembali bersedih akan hal ini.”

Kyungsoo mengangguk mengerti, dia tau perasaan Inta saat ini, seperti mereka juga.

“Dia pernah cerita padaku kalau Chanyeol adalah cinta pertama dalam hidupnya dan dia berharap Chanyeol adalah cinta terakhirnya di masa SMA-nya ini. Tapi sekarang, itu hanya impian belaka.”

Di akhir cerita Euncha, Kyungsoo jadi teringat kalimat Chanyeol yang masih mengiang di pikirannya. Seperti kalimat terakhir.

#flashback
“Kyungsoo, bisa kau membantuku?” Chanyeol menghampiri Kyungsoo yang akan meninggalkan ruang musik.

“Tentu. Aku kan, selalu membantumu.” Jawab Kyungsoo berbalik badan dengan wajah santai.

“Bisakah kamu menyerahkan ini pada Inta?” Chanyeol menyerahkan sebuah MP3 dan secarik lirik miliknya.

“Mwo? Kenapa aku?”

“Aku tak yakin aku mampu memberikannya padanya. Aku...”

“Ehh? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kamu selalu bersemangat untuk mendapatkannya. Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?”

“Aku... Aku tak yakin aku bisa bertahan saat akan menyerahkan ini.”

Kalimat terakhir itu membuat Kyungsoo seketika diam. Dia berpikir kalau akan ada hal buruk akan terjadi pada namja tinggi itu. perasaannya jadi gelisah.

“Serahkan ini di saat aku sudah tidak berada di sisinya lagi.”
#flashback End

Kyungsoo tak menyadari adanya air mata yang telah jatuh ke pipinya.


...0O0...


Keesokan harinya, Euncha kembali melewati koridor itu dan saat dia berhenti di depan ruang musik, dia mendapati seorang yeoja tinggi memandang ruang musik.

“Inta-ya!!!” Seru Euncha saat dia mengetahui kalau yeoja itu adalah teman sekelasnya.

“Ahh... Euncha. Kamu datang... aku sedang melihat – lihat saja...”

Euncha menatap matanya yang sembab karena menangis. Dia tau apa yang dia tangisi. Senyumnya sedikit jatuh kebawah, membuat wajahnya datar.

GREEP!

Dengan cepat, Euncha memeluk tubuh tinggi Inta. Masih dengan wajah datar, tapi dengan tatapan sedih.

“Aku mengkhawatirkanmu.”

Inta hanya diam merasakan hangatnya tubuh yeoja mungil itu. Pelukan itu tak kalah hangat dengan namja yang pernah dekat dengannya. Dia merasa air matanya tak bisa berhenti keluar. Dia mempererat pelukan itu sambil terus terisak.


...0O0...


Kyungsoo melangkah perlahan menuju taman sekolah mendekati Euncha dan Inta yang tengah duduk di bangku taman, terlihat Inta bersandar di bahu Euncha dengan wajah sedihnya. Kyungsoo bisa menatap matanya yang sembab, seperti sudah menangis berhari – hari.

“Yaa... Inta-ya. Kamu...”

“Aku baik, kok. hanya saja... melupakan dia itu... susah banget.”

Inta memotong perkataan Kyungsoo dengan tatapannya yang masih sama. Lalu Kyungsoo menatap Euncha yang masih terlihat datar tanpa sepatah katapun. Karena menyadari adanya Kyungsoo di depannya, dia langsung membuyarkan lamunannya dan tersenyum santai.

“Ah... Kyungsoo... kamu...”

“Jangan mengelak lagi, deh!” Seru Kyungsoo tak sabaran, “Aku tau kalian semua masih mengingat Chanyeol, tapi jangan terus bersedih begini!!”

Inta yang bersandar di bahu Euncha langsung terkejut dengan seruan tegas Kyungsoo, begitu juga Euncha.

“Ingat! Dulu Chanyeol selalu berusaha keras untuk menahan rasa sakit dari penyakitnya dengan sikap positifnya dan senyumannya. Masa kita yang sudah ditinggal olehnya tak bisa bersikap sama sepertinya?”

Kyungsoo terengah – engah setelah mengatakan semua kalimat itu, benar – benar tak sabaran. Euncha melangkah satu langkah ke arah namja itu dengan menatap kedua matanya. Lalu memegang leher belakangnya dan mendekatkan bibirnya pada telinganya.

“Mianhae...”


...0O0...


Saat dalam pelajaran, Kyungsoo hanya memandang keluar jendela. Termenung keras tentang apa yang terjadi tadi. ‘Apa aku terlalu keras dan memaksa?’, Itulah yang terus ada di pikirannya, rasa bersalah terus menghantui dirinya.

“Aku harus melakukan sesuatu!”


...0O0...


Terlihat Euncha tengah menunggu seseorang di depan sebuah cafe di pinggiran kota Seoul dengan wajah berseri – seri. Dia tak pernah sesenang ini sejak kenangan itu terus terkuak, dia tengah menunggu seseorang yang menurutnya spesial selain Inta. Pacar mungkin? Tak mungkin.

“Mianhae... aku lama, eoh?”

Seorang namja yang tingginya setara dengannya menghampirinya dengan senyuman tulus. Euncha langsung tersenyum lebar melihat senyuman itu.

“Ah... Gwenchana. Aku sudah biasa, kok.” Kata Euncha masih tersenyum

“Yakin?”

“Kalau enggak, kenapa aku tersenyum?”

“Hmmm... benar juga.”

Euncha langsung menarik lengan Kyungsoo masuk ke cafe dengan semangat. Mereka sama – sama memesan cappucino dan mereka duduk di dekat jendela.

“Ya! Kenapa kamu mengajakku ke sini? Tak seperti biasanya.” Euncha mulai membuka pembicaraan.

“Eeeee... aku hanya ingin membawamu ke tempat yang tak biasa. Kamu tak suka?”

“Ahh... aku suka sekali. Suasananya juga tenang. Tak salah kamu memilih cafe ini.”

Kyungsoo hanya tersenyum senang melihat senyuman Euncha yang memang terlihat senang. Lalu Euncha memfokuskan pandangannya keluar jendela, senyumnya terlihat damai menyatu dengan sinar matahari yang mengenai wajahnya.

“Aku ingin jadi seseorang yang berharga bagimu.” Bisik Kyungsoo sambil menatap cappucino miliknya.

“Mwo?”

“Ahh... bukan apa – apa.”

Kyungsoo terlihat berusaha tenang dan tak memikirkan kalimat itu lagi. Euncha masih terlihat bingung. Sepertinya ada yang ingin dia katakan, itu yang ada di benaknya. Dia langsung tersenyum pada Kyungsoo seperti bocah polos di kartun yang biasa dia tonton.

‘Senyumanmu itu... tak pernah bisa terlupakan...’ Kyungsoo tersenyum senang.


...0O0...


Saat mereka keluar dari cafe itu, Euncha melihat ada sebuah taman kecil di depan cafe tersebut.

“Kyungsoo-ya! Lihat! Ada taman di depan sini! Jalan ke sana, yuk!” Kata Euncha antusias, seperti biasa.

“Ah... Benar juga. Eh! Tunggu!”

Tiba – tiba Kyungsoo terlihat sibuk menggeledah isi saku celananya, seperti ada sesuatu yang tertinggal.

“Wah! Ponselku masih tertinggal d cafe, tunggu sebentar, eoh!”

Sepeninggalnya Kyungsoo menuju ke cafe, Euncha hanya diam di depan cafe sambil menatap taman itu.

‘Kenapa aku tak pergi ke sana duluan? Jadi Kyungsoo bisa mencariku dulu. Jadi seperti petak umpet, nih!’ Gumam Euncha dalam hati, sambil tersenyum sendiri.

Tanpa ambil pusing, dia menyeberang jalan di dekatnya. Namun tiba – tiba dari samping ada sebuah truk melintas ke arahnya. Seketika tubuhnya terpelanting dan pandangannya menjadi gelap.

Ketika Kyungsoo keluar dari cafe, terlihat banyak kerumunan orang di jalan raya depan cafe. Perasaannya mulai tak enak ketika dia tau bahwa Euncha tidak ada di sekitar sini. Dia langsung menyerbu kerumunan itu dan tak menyangka bahwa korbannya adalah...


...0O0...


Inta tengah meratapi makam Chanyeol seperti biasa, sambil membawa seikat bunga dan MP3 berisi lagu buatan namja itu. Hingga dia mendapati seorang namja lain yang tak lain adalah Kyungsoo. Di pipinya terdapat setetes air mata yang sepertinya baru saja jatuh.

“Euncha... dia...”

“Gwenchana! Aku sudah tau. Kamu yang sabar, eoh.” Inta memotong pe

Kyungsoo mengantarnya ke sebuah makam lain yang terlihat masih baru. Kyungsoo meletakkan seikat bunga di atas makam tersebut. Inta hanya menatapnya sambil menahan air matanya.

“Kamu bilang, kita tak boleh terus bersedih. Tapi sekarang akhirnya aku bisa melihat air matamu jatuh.” Gumam Inta di tengah keheningan.

“Aku tau, kehilangan dua orang yang sangat berharga adalah sangat menyedihkan. Aku berusaha menahan semuanya, tapi kali ini aku tak bisa!”

Inta menatap Kyungsoo dengan prihatin, dia tau persaan Kyungsoo saat ini karena telah menahan rasa sakit yang amat dalam.

“Kamu menyukai Euncha, kan?” seketika Kyungsoo terkejut, “Jika tidak, kamu tak akan mengeluarkan air matamu itu.”

Kyungsoo mengangguk lalu menatap wajah Inta yang datar mengatakan hal itu. Semua kembali hening, menatap makam tersebut.

“Euncha, jangan lupakan kami...”


END


Yooo! What’s up!!! Kembali bersama Erza Noorfatma si author baru dengan Fanfic baru lagi! Kali ini, FanFic ini merupakan sekuel dari Moonlight yang tokoh utamanya Chanyeol. Semoga banyak yang suka dan aku terus ngepost banyak FanFic lain

Annyeong <3

Minggu, 01 Mei 2016

[FF] FanFiction - Butterfly (Vocaloid Ver.)

Butterfly (Vocaloid Ver.)



Author: Erza Noorfatma
Genre: Friendship
Cast: - Shi Meiko (Kim Namjoon)            - Kim Shiyu (Kim Taehyung)
- Jung Kaito (Jung Hoseok)             - Ki Kim Len (Min Yoongi)
- Hyun Miku (Jeon Jungkook)        - Ki Kim Rin (Park Jimin)
-  Mi Luka (Kim Seokjin)


          Kim Shiyu bersandar pada dinding bangunan tua. Air mata jatuh ke pipinya yang kotor. Ia melihat tangannya. Jauh lebih kotor dari pada pipinya. Kedua tangannya berlumuran darah. Darah yang tampaknya masih segar. Masih teringat jelas kejadian itu,

          #flashback
          Shiyu menatap seseorang tengah menghakimi masternya dengan kasar. Lalu dia melihat sebuah botol kaca dekat pintu ruangan itu. Tanpa pikir panjang, dia meraih botol itu dan mendobrak masuk ke ruang studio...

          Duaaakkk...

          Shiyu langsung memukulkan botol pada orang yang tak dikenalnya hingga  botol ditangannya pecah menjadi pecahan beling yang tajam. 

          “Jangan... sentuh... Master-ku!!!”

          Duaakk... Duaakk... Duakkk...

          Shiyu terus menusuk orang itu tanpa ampun, hingga sang master mendorongnya dan menjauhkan Shiyu dari si orang itu. Shiyu mulai menyadari apa yang telah dia lakukan. Dia telah membunuh orang itu.

          “Tidak... ini tak mungkin...”

          Shiyu hanya tercengang dengan syok-nya, sang master menghampiri Shiyu untuk berusaha menenangkannya. Tapi Shiyu justru melarikan diri dari sang master.

          #flashback END


 Ia berusaha membersihkannya dengan menggosokkan tangannya ke pipinya. Sadar itu tidak berguna, ia membersihkan tangannya dengan air dari dalam botol. Air itu mengalir keluar dari dalam botol, membersihkan tangan Shiyu. Shiyu juga berusaha membersihkan baju putihnya yang kotor terkena cipratan darah. Namun Air tidak bisa membersihkan noda dibaju.

Shiyu mengeluarkan handphonenya dan mencoba menelpon seseorang.

"Eonnie... Aku ingin bertemu denganmu..."


...0O0...


Shiyu melangkah & terus melangkah. Membawanya kesebuah lapangan besar. Sebuah kasur usang terletak ditengah lapangan iu. Taehyung berbaring diatasnya. Ia memejamkan matanya sejenak. Silau. Ia sudah tidak terlalu mempedulikannya. Ia fokus pada foto yang sedang ia genggam. Di foto itu ada dirinya bersama sang master dan pengisi suaranya, Kim Dahee. Merasa muak pada foto itu, ia meremasnya lalu kembali menatap langit. Lalu dia memejamkan matanya sejenak.

Angin berhembus pelan membuat bunga bunga bergoyang goyang. 3 yeoja dan 2 namja tengah berjalan menghampiri Shiyu tanpa ia sadari. Mereka Meiko, Kaito, Miku, Len, & Rin. Mereka berkumpul mengelilingi Shiyu yang masih belum menyadari kehadiran mereka. Meiko mengguncang bahu Shiyu pelan.

" Apa yang kau lakukan disini? ", tanyanya sambil tersenyum.

Meiko membantu Shiyu berdiri. Shiyu tersenyum senang dikelilingi teman temannya. Mereka bahagia. Bermain bersama seperti anak – anak.

Saat mereka sedang mengobrol dan bercanda bersama, Miku menyadari bahwa ada seseorang yang sedang merekam mereka.

" Oh, itu Luka Eonnie! ", Miku menunjuk kearah yeoja yang sedang merekam mereka dengan handycamnya.

Luka berlari menghampiri mereka, Shiyu memeluknya erat. Sekarang mereka semua lengkap. Shiyu melepas pelukannya, lalu Luka merekam Shiyu, Kaito, & Len yang sedang berpose dengan jarinya membentuk huruf V kearah kamera. Shiyu memang dekat dengan 2 namja tersebut.

Miku mendorong kencang sebuah trolly dengan Meiko diatasnya. Meiko yang biasanya terlihat serius, berteriak penuh kegembiraan dan kegirangan. Sementara itu Luka sibuk merekam mereka sambil berdecak kagum. Puas dengan permainan tadi, Luka dan Miku bermain adu panco.

“Ayo, Kaito! Lawan aku!”

Sementara Rin bermain ranting yang dijadikan pedang bersama Kaito. Meiko, Len, Miku menari dengan aneh sambil direkam Luka sambil tertawa tawa. Shiyu bergabung, dan juga menari dengan gaya anehnya, seolah energi mereka tidak ada habisnya.

Di tengah tengah kegembiraan itu, Kaito yang lelah tertidur sambil bersandar di dinding.

“Noona, ambil gambarku dengannya, dong!”

 Len menghampirinya lalu meminta Luka untuk memotret mereka berdua. Sebelum Luka memotret mereka, Miku berlari lalu bergabung disebelah Len. Kaito terbangun. Sejenak tampak tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kaito sadar apa yang terjadi lalu berpose bersama Miku & Len dan membentuk jari mereka membentuk huruf V.

Setelah itu Len, Rin, Miku, Kaito, Meiko & Luka duduk bersama sama diatas sebuah dinding bangunan. Luka masih merekam semua dengan handycam miliknya

Sedangkan Shiyu memanjat sebuah bangunan. Memandang semua temannya dari atas dan memandang pemandangan di depannya.


...0O0...


Mereka ber 7 duduk mengelilingi api unggun. Luka menawarkan pretzel mini kepada Rin, Rin menunjukkan pretzel miliknya namun tetap mengambil pretzel yang ditawarkan Luka lalu menunjukkan cara memakannya pretzel mini tersebut dengan imut. Sementara itu Meiko & Len sedang bersulang dengan botol bir mereka. Mereka berdua berakting seolah – olah mereka tengah mabuk. Kaito tidak mempedulikan hal itu, ia hanya duduk di sofa sambil memainkan korek api. Pandangannya kosong. Miku yang mungkin agak lelah, memutuskan bersandar di atas sofa juga dan menggunakan pundak Kaito sebagai bantal.

Luka mengeluarkan sebuah foto bergambar laut dari dalam kantung celananya dan memandangi foto itu sejenak sebelum menoleh pada Rin. 

"Kita... Bagaimana kalau kita pergi kesini? ", Luka menunjukkan foto itu pada Rin. Rin mengangguk dengan antusias.

Luka menatap Shiyu yang sedang bertopang dagu berharap mendapatkan jawaban yang sama seperti jawaban Shiyu, Shiyu mengangguk setuju. Yang lain tampaknya juga setuju. Miku yang sedang bersandar, bangun dan melihat foto itu. Tetapi ia tidak menjawab apa apa. Ia justru meniup api yang berasal dari korek api yang sejak dari tadi Kaito mainkan. 

Semuanya pun menjadi gelap.


...0O0...


          Mobil yang membawa mereka ber7 melaju kencang. Angin pantai menerpa muka mereka. Senyum terus mengembang di wajah mereka. Pantai itu sepi. Hanya ada mereka. Itu bagus, setidaknya tidak akan ada yang terganggu dengan teriak teriakan mereka. Mereka semua melompat dari mobil dan mulai berlarian serta melompat sepanjang pantai. Luka merekam momen kebersamaan mereka. Semoga momen kebersamaan ini bisa terekam selamanya dalam memori mereka


...0O0...



          Miku merentangkan tangannya, berusaha menghirup udara segar sambil berjalan mengikuti yang lainnya. Mereka ber7 berdiri di atas dinding yang berada di pantai sambil melayangkan pandangan ke arah lautan. Burung Camar terbang bebas menghiasi langit sore.

Sementara yang lain fokus pada pemandangan laut di hadapan mereka dan Luka yang masih asik merekam yang lain, Shiyu menatap sebuah bangunan tinggi yang terbuat dari susunan tiang tiang. Tampaknya bangunan itu belum selesai dibangun. Shiyu mengalihkan pandangannya dari bangunan itu dan menoleh kearah lainnya. Menatap mereka sebentar lalu bangkit dan memakai hoodienya sambil berjalan kearah bangunan itu. Ia memanjat bangunan itu tanpa takut. Luka yang melihatnya tampak bingung dengan aksi Shiyu, namun ia merekam aksi Shiyu dengan handycamnya. Shiyu sudah sampai diatas bangunan itu. Yang lain menyadari tentang Shiyu & memerintahkannya untuk segera turun. Mereka takut Shiyu melakukan sesuatu yang berbahaya.

“Shiyu-shi! Cepat turun! Ppali! Apa – apaan kau!!” Begitu teriakan mereka membuat Shiyu menengok mereka sejenak.

          Shiyu hanya tersenyum pada mereka dari atas. Sepertinya menolak untuk turun. Ia bersiap untuk berlari. Apa yang ditakutkan yang lain, kali ini terjadi. Taehyung melompat. Mungkin bagi yang lain ia terlihat sedang melompat. Tetapi bagi Shiyu, ia terbang seperti kupu kupu. Terbang menuju kebebasan yang abadi. Tidak perlu lagi merasa bersalah. Ia sudah bebas. Sangat bebas.


END



          What's up!!! Kali ini FanFic ini bertemakan Vocaloid. Terinspirasi oleh MV Prologue milik BTS. Karena lagi bosen, akhirnya ngebikin FanFic macam ini (aku jamin ini pasti geje :'( ). Tapi terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca FanFic ini.
          Annyeong <3